Berita gembira tiba dari bulu tangkis. Dua pemain tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting serta Jonatan Christie, dinyatakan maju ke Olimpiade 2020. Mereka akan tampil di Olimpiade 2020 yang diadakan di Tokyo pada tengah tahun 2021 akan datang.
Kita ketahui, Olimpiade yang semestinya diadakan Juli tahun ini, dimundurkan satu tahun sebab epidemi virus. Tetapi, walau akan diadakan pada tahun 2021, namanya tetap Olimpiade Tokyo 2020.
Dalam informasi yang dikeluarkan beberapa media, termasuk juga di account Instagram yang fasih mengulas badminton, badmintalk_com, Ginting jadi tunggal pertama Indonesia yang maju ke Olimpiade. Diikuti Jojo--panggilan Jonatan Chrisie.
"Indonesia have confirmed their first Men's Singles qualifiers in Tokyo Olympics 2020. Indonesia Masters 2020 winner, Anthony Sinisuka Ginting has qualified for this year's Olympics!
"His race to Tokyo points are enough to ensure Ginting to be in the overall teratas 16 and Indonesia's teratas 2, thus confirm his spot in Tokyo Olympics next year".
Sebetulnya, info tampilnya Ginting serta Jojo ini tidak mengagetkan. Karena, di atas kertas, mengacu pada dua hal sebagai ketentuan berhasil lolos, mereka telah on the trek.
Pertama, rangking mereka di rangking BWF saat akan dibekukan per 17 Maret lalu, telah aman di 16 besar. Ginting berada di rangking 6 serta Jojo di ranking 7. Berarti, dengan tersisa kompetisi kwalifikasi yang ada, mereka tidak keluar dari 16 besar.
Ke-2, mereka pun tidak bisa dikejar oleh tunggal putra Indonesia yang lain, Shesar Hiren Rhustavito yang berada di rangking 18. Kita ketahui, dari 16 pemain yang berhasil lolos, satu negara cuma dapat mengirim dua pemain.
Lalu, mengapa kok kelolosan mereka baru dilakukan konfirmasi saat ini?
Pemicunya, hitung-hitungan kelolosan itu masih menanti informasi sah dari BWF berkaitan ketentuan paling baru kwalifikasi ke arah Olimpiade yag baru dikeluarkan awal minggu tempo hari.
Ketentuan ini menyinggung ada beberapa kompetisi pada tahun ini yang sedianya jadi tempat kwalifikasi, tetapi dipending sebab epidemi. Perhitungan point kwalifikasi akan kembali lagi diawali awal tahun 2021 sebab memang ke-16 pemain, belum semua berhasil lolos.
Lepas dari kelolosan Ginting serta Jojo ke Olimpiade ini tidak mengagetkan, tapi kita tentu setuju jika info ini membahagiakan. Ya, dapat berhasil lolos cepat saat kwalifikasi belum juga usai, tentu saja membahagiakan.
Banding jika kedua-duanya belum dinyatakan berhasil lolos serta harus berusaha dengan peluang tidak berhasil lolos. Ditambah lagi jika ranking mereka seumpama masih di luar 16 besar. Tentu saja justru buat deg-degan. Karena itu, info ini membahagiakan.
Menjejaki jejak sukses Taufik Hidayat
Tentunya, info kelolosan ini baru awal. Bukan arah akhir. Karena, bilapun tampil di Olimpiade itu jadi mimpi buat tiap olahragawan, tapi Ginting serta Jojo pasti tidak mau hanya tampil di Olimpiade. Mereka ingin pulang bawa medali. Sukur-syukur jika medali emas.
Nah, bicara perolehan paling baik tunggal putra Indonesia di Olimpiade, pasti tidak terlepas dari nama Taufik Hidayat. Taufik mendapatkan medali emas di Olimpiade Athena pada 2004 yang lalu.
Memang, ada pula nama Alan Budikusuma yang mendapatkan medali emas di Olimpiade Barcelona 1992. Tetapi, Taufik dapat disebut semakin update jika dihubungkan dengan keadaan kompetisi bulu tangkis masa modern.
Untuk dapat menjejaki jejak sukses Taufik Hidayat di Olimpiade, Ginting serta Jojo sebetulnya ada pada kondisi yang hampir sama. Dahulu, Taufik yang diketahui dengan smash backhand-nya yang melegenda, mendapatkan medali emas di Olimpiade 2004 di umur 23 tahun.
Ginting juga sekarang berumur 23 tahun. Pada 20 Oktober kelak, ia akan genap berumur 24 tahun. Berarti, ia akan mencicip Olimpiade pertama kalinya di umur 24 tahun. Sesaat Jojo yang sekarang berumur 22 tahun, tahun kedepan akan tampil di Olimpiade di umur 23 tahun.
Cara Melakukan Deposit Main Togel Online
Dengan umur yang relatif sama, semestinya stamina serta semangat Ginting serta Jojo, tidak kalah dengan semangatnya Taufik Hidayat dahulu. Itu jadi awal buat mereka.
Memang, Taufik dahulu mendapatkan medali emas di Olimpiade kedua-duanya. Awalnya, di Olimpiade 2000 di Sydney di umurnya yang masih tetap 19 tahun, Taufik berhenti di perempat final oleh pemain China, Ji Xinpeng yang pada akhirnya mendapatkan medali emas.
Toh, walau akan jalani kiprah di Olimpiade bukan bermakna Ginting serta Jojo kalah dalam 'jam terbang' performa di ajang internasional. Karena, jika tidak salah, mereka melahap jumlah kompetisi BWF World Tur di tahun-tahun ini yang semakin padat dibandingkan masa Taufik.
Berarti, dengan cara pengalaman tanding di ajang internasional, mereka bukan "pemain kaleng-kaleng". Ditambah lagi, lawan-lawan yang akan mereka menghadapi di Olimpiade kelak, tentu saja tidak asing lagi. Karena, mereka seringkali berjumpa di kompetisi BWF World Tur.
Lalu, bagaimana setelah itu?
Tetapi yang tentu, Ginting serta Jojo tidak bisa jadi seperti Taufik Hidayat. Tujuannya, di Olimpiade kelak, mereka tidak bisa bermain seperti stylenya Taufik yang sekarang telah jadi legenda bulu tangkis.
Sebab memang, untuk mem-foto copy apa-apa yang telah jadi stylenya Taufik, rasa-rasanya tidak mungkin. Malah, Ginting serta Jojo harus berupaya mendapatkan medali emas dengan main mereka sendiri.
Masihlah ada kesempatan satu tahun sebelum tampil di Olimpiade tahun kedepan. Semasa itu, yang dapat dilaksanakan Ginting serta Jojo ialah terus mempertajam langkah main, ketenangan, dan mentalitas dalam bermain. Termasuk tingkatkan ketahanan fisik.
Karena, dengan kekuatan tehnik yang hampir sama dengan beberapa lawannya, memungkinkan laga bulu tangkis di Olimpiade kelak akan dipastikan dengan rubber game (tiga game).
Team pelatih masih tetap punyai waktu kira-kira setahun untuk mengatur apa sebagai kekurangan dari dua tunggal putra jagoan Indonesia ini.
Sejauh ini, bagian minus yang sangat menonjol dari Ginting serta Jojo ialah persistensi permainan mereka. Kedua-duanya dapat tampil mengagumkan pada sebuah kompetisi. Tetapi, di kompetisi selanjutnya justru tampil amburadul.
Mengambil contoh performa mereka di All England Open 2020 pada Maret lalu sebagai kompetisi bulu tangkis yang diadakan sebelum disetop sebab epidemi. Kedua-duanya tampil ouf of expectation. Di luar keinginan.
Ginting serta Jojo sebagai favorit 4 serta 6, justru langsung gagal diperputaran pertama. Walau sebenarnya, pada tengah Januari 2020, Ginting tampil menjadi juara di Indonesia Masters. Diperjalanan ke arah tribune juara, ia pernah menaklukkan Viktor Axelsen yang menjadi juara All England 2020.
Berarti, jadi permasalahan serius kenapa pengurangan performanya sampai sebegitu besar. Seumpama Ginting serta Jojo berhenti di semi-final atau final, penggemar bulu tangkis mungkin dapat menyadari.
Spesial untuk Jojo, team pelatih harus juga mengoles mental tandingnya supaya tidak mudah drop. Saat Indonesia jadi juara Kejuaraan Beregu badminton Asia 2020 di Filipina pada tengah Februri lalu, Jojo tampil tidak seperti dianya.
Ia kalah 3x dari lawan-lawan yang semestinya dapat ia taklukkan. Saat menantang Korea di babak group, ia kalah dari Son Wan-ho yang baru sembuh dari luka panjang. Lalu di semi-final menantang India, Jojo kalah straight game dari pemain 18 tahun, Lakshya Sen.
Serta di final menantang Malaysia, Jojo yang semestinya jadi pahlawan kemenangan Indonesia di pertandingan ke-3, justru kalah dari pemain tidak populer, Cheam Juni Wei.
Tetapi, bagaimana juga, untuk pemirsa, kita cuma dapat menganalisa permasalahan dari apakah yang kita melihat. Ginting serta Jojo-lah yang paling mengetahui permasalahan mereka. Berarti, mereka semestinya tahu triknya keluar dari permasalahan mereka. Tentu saja dengan pertolongan pelatih.
Siapa tahu, Ginting serta Jojo dapat mengulang-ulang performa heroik mereka di Asian Games 2018 lalu waktu tampil di Olimpiade akan datang. Itu narasi yang bukan tidak mungkin berlangsung.
Sekarang, kita pasti mengharap, saat kelak kompetisi bulu tangkis kembali lagi diadakan, Jojo serta Ginting langsung dapat on fire. Khususnya saat masuk awal tahun 2021. Karena, performa bagus itu bisa menjadi bekal bagus sebelum tampil di Olimpiade. Mereka tinggal jaga persistensi permainan.
Jadi, dapatkah Ginting serta Jojo menjejaki jejak sukses Taufik Hidayat di Olimpiade tahun kedepan?